Jumat, 26 Oktober 2012

INOKULASI DAN PEMURNIAN BAKTERI


INOKULASI DAN PEMURNIAN BAKTERI
(Laporan Praktikum Mikrobiologi Air)




Disusun oleh
Surya Edma Syaputra
1114111051



logo unila



JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012


HALAMAN PENGESAHAN

Nama Mahasiswa       : Surya Edma Syaputra
NPM                              : 1114111051
Program Studi              : Budidaya Perairan
Fakultas                        : Pertanian
Judul Paktikum            : Inokulasi dan Pemurnian Bakteri
Tempat                         : Laboratorium Budidaya Perairan
Waktu Praktikum         : Selasa, 9 Oktober 2012
Kelompok                     : 2 (dua)

Bandar Lampung, 15 Oktober 2012




________________


Catatan
Nilai












LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI AIR (BDI206)
INOKULASI DAN PEMURNIAN BAKTERI
Disusun oleh:
Surya EdmaSyaputa (NPM. 1114111051)
Jurusan Budidaya Perairan/Perikanan
Fakultas Pertanian
Universitas Lampung
2012
Abstrak
Inokulasi adalah  kegiatan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Isolasi adalah kegiatan memisahkan bakteri dari lingkungannya dialam. Ada beberapa metode dalam menginokulasi yaitu metode gores, metode tebar, metode tuang dan metode tusuk. Pada praktikum ini menggunakan media TSA dan media Zobbel 2216E dengan banyak sampel yaitu air laut, air PDAM, air sumur, air kolam, air akuarium, air kolam lele. Kemudian sampel diambil dengan pipet tetes dan taruh di permukaan media yang selanjutnya akan diinkubasi. Kemudian menggunakan metode gores diambil koloni-koloni yang tersimpan kemudian di gores pada permukaan agar lempeng.  Kemudian diinkubasi lagi selama 24 jamdalam suhu 30oC.
Kata kunci: Inokulasi, isolasi,teknik inokulasi, kekurangan dan kelebihan

A.   PENDAHULUAN
Dalam teknik biakan murni tidak saja diperlukan bagaimana memperoleh suatu biakan yang murni, tetapi juga bagaimana memelihara serta mencegah pencemarannya. Inokulasi dimaksudkan untuk menumbuhkan dan mendapatkan populasi mikroba yang murni. Inokulasi adalah kegiatan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Media untuk membiakkan bakteri haruslah steril sebelum digunakan. Pencemaran terutama berasal dari udara yang mengandung banyak mikroorganisme. Pemindahan biakan mikroba yang dibiakkan harus sangat hati-hati dan mematuhi prosedur laboratorium agar tidak terjadi kontaminasi. Oleh karena itu, diperlukan teknik-teknik dalam pembiakan mikroorganisme yang disebut dengan teknik inokulasi biakan.
Isolasi bakteri merupakan suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungan sehingga diperoleh kultur atau biakan murni. ada beberapa cara umum yang dapat dilakukan dengan cara gores, cara tebar, cara tuang dan metode tusuk. Secara alami, bakteri di alam ditemukan dalam populasi campuran. Hanya dalam keadaan tertentu saja populasi ini ditemukan dalam keadaan murni . Untuk dapat mempelajari sifat biakan, morfologi, dan sifat aslinya, maka organisme yang akan diteliti harus dapat dipisahkan. Ini berarti bahwa harus ada biakan murni yang hanya mengandung satu jenis bakteri saja.
Untuk memperoleh biakan murni dapat dilakukan pengenceran dengan menggunakan bahan cair atau padat. Pada mulanya digunakan gelatin sebagai bahan pemadat. Teknik untuk memperoleh biakan murni ada 3 cara, yaitu: teknik penggoresan agar, teknik agar tuang, teknik agar sebar.

Teknik inokulasi merupakan suatu pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Dengan demikian akan diperoleh biakan mikroorganisme yang dapat digunakan untuk pembelajaran mikrobiologi. Pada praktikum ini akan dilakukan teknik inokulasi biakan mikroorganisme pada medium steril untuk mempelajari mikrobiologi dengan satu kultur murni saja.

Identifikasi biakan mikroorganisme sering kali memerlukan pemindahan ke biakan segar tanpa terjadi pencemaran. Pemindahan mikroorganisme ini dilakukan dengan teknik aseptik untuk mempertahankan kemurnian biakan selama pemindahan berulang kali. Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dalam biakan cair atau padat. Kekeruhan dalam kaldu menunjukkan terjadinya pertumbuhan mikroorganisme. Bila mikroorganisme menumpuk pada dasar tabung maka akan membentuk sedimen, sedangkan pada permukaan kaldu pertumbuhannya terlihat sebagai pelikel.

Berdasarkan dai hal diatas, maka diadakanlah praktikum Inokulasi dan pemurnian bakteri ini guna memberikan pemahaman mahasiswa untuk mengisolasi dan menginokulasi bakteri dari lingkungannya di alam.

B.   TINJAUAN PUSTAKA
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi) terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi (Dwijoseputro, 1998).

Media TSA adalah media  yang dikenal sebagai media yang umum karena media ini dapat digunakan untuk menumbuhkan mikrooorganisme sesuai yang diinginkan. Sedangkan media zobell adalah media yang selektif, karena media ini hanya dapat ditumbuhi oleh bakteri yang berasal dari air laut saja (Schlegel, Hans G. 1994).
Isolasi bakteri adalah suatu kegiatan memisahkan bakteri dari lingkungannya di alam. Inokulasi bakteri merupakan kegiatan menumbuhkan bakteri sebagai kultur murni dalam media buatan yaitu media TSA dan media Zobell 2216E. Sedangkan purifikasi yaitu permurnian bakteri kultur yang telah diisolasi (Schlegel, Hans G. 1994).
Teknik Inokulasi
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengisolasi biakan murni mikroorganisme yaitu :
Metode gores
Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni (Winarni, 1997). Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan.
Ada beberapa teknik dalam metode goresan, yakni :
a.Goresan T 
b.Goresan kuadranc.
c.Goresan Radiand.
d.Goresan Sinambung
Metode tebar
Setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang terpisah-pisah (Winarni, 1997). 
Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada suatu saat hanyaditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997).
Metode tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan ujung jarumose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan ke dalam media (Winarni,1997).

C.   MATERI DAN METODE
Pratikum dilakukan di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Praktikum ini pun dilakukan selama 3 hari, yaitu:
1.    Pengamatan bakteri dan isolasi, pada tanggal 9 Oktober 2012  pukul 11.30-12.00 WIB.
2.    Pengambilan bakteri, pada tanggal 10 Oktober 2012 pukul 12:30 sampai selesai.
3.    Pengamatan bakteri, pada tanggal 11 Oktober 2012 pukul 11:30 sampai dengan selesai.
Alat yang digunakan pada pratikum ini antara lain tabung reaksi, tissue, cawan petri, label, mikropipet, spreader, jarum ose, bunsen, wraping, dan kertas layang-layang.
Bahan yang digunakan pada pratikum ini antara lain alkohol, sampel air laut, air PDAM, air sumur, air kolam, air akuarium, air kolam lele, media TSA, dan media Zobell 2216E.
Adapun cara kerja dalam praktikum kali ini adalah :
1.    Inokulasi dan pemurnian bakteri air tawar
Mengambil  25 ml sampel air tawar menggunakan mikropipet, meneteskan pada permukaan media agar lempeng lalu ratakan dengan spreader. memberi label (nama,sumber sampel, tanggal). Menginkubasi secara terbalik pada suhu 30°C selama 4 hari. Mengamati koloni yang tumbuh pada permukaan agar lempeng dan mencari koloni-koloni yang memiliki morfologi berbeda. Mengambil koloni tersebut menggunakan ose dan gores pada permukaan agar lempeng. Tiap lempeng agar dapat menampung 10-12 koloni yang berbeda. Menginkubasi pada suhu 30°C selama 24 jam. Menanam koloni yang telah murni dalam media agar miring dengan cara goresan.
2.    Inokulasi dan permurnian bakteri air laut
Mengambil  25 ml sampel air laut menggunakan mikropipet, meneteskan pada permukaan media agar lempeng lalu ratakan dengan spreader. memberi label (nama,sumber sampel, tanggal). Menginkubasi secara terbalik pada suhu 30°C selama 4 hari. Mengamati koloni yang tumbuh pada permukaan agar lempeng dan mencari koloni-koloni yang memiliki morfologi berbeda. Mengambil koloni tersebut menggunakan ose dan gores pada permukaan agar lempeng. Tiap lempeng agar dapat menampung 10-12 koloni yang berbeda. Menginkubasi pada suhu 30°C selama 24 jam. Menanam koloni yang telah murni dalam media agar miring dengan cara goresan.

D.   HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini mengenai inokulasi dan pemurnian bakteri menggunakan beberapa sampel yaitu, air  PDAM , air kolam, air sumur, air kolam, air akuarium, air kolam lele, air tambak, air laut. Sampel  air PAM diperoleh dari perumahan di daerah kemiling.
Pada praktikum kali ini, dengan sampel air PDAM, sudah dapat dibilang kami berhasil. Dimana mikroorganismenya tersebar dengan beik. Meskipun sempat kami merasa terkendala ketika TSA yang kami gunakan tergores ketika menggunakan jarum ose. Dan akhirnya kami mengganti dengan TSA yang lain.
Pada praktikum ini, praktikan melakukan inokulasi dengan menggunakan teknik gores dimana teknik penggoresan ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi memerlukan keterampilan-keterampilan yang diperoleh dengan latihan. Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum pindah (lup inokulasi). Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat tumbuh menjadi koloni (Winarni, 1997). Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng. Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis. Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi tujuannya sama yaitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium pembiakan. Ada beberapa teknik dalam metode goresan, yakni : Goresan T, Goresan kuadran c, Goresan Radiand, Goresan Sinambung. Kemudian praktikan melakukan teknik tebar yang dilakukan setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dalam menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang terpisah-pisah.
Metode tuang
Isolasi menggunakan media cair dengan cara pengenceran. Dasar melakukan pengenceran adalah penurunan jumlah mikroorganisme sehingga pada suatu saat hanya ditemukan satu sel di dalam tabung (Winarni, 1997).
Metode tusuk
Metode tusuk yaitu dengan dengan cara meneteskan atau menusukan ujung jarumose yang didalamnya terdapat inokolum, kemudian dimasukkan ke dalam media (Winarni,1997).
Dari semua teknik yang ada dalam inokulasi, pastilah ada kurang dan lebihnya dari tiap teknik tersebut dimana mengingat berbeda cara berbeda pula penggunaan dan penempatan pemakaiannya. Adapun teknik yang lebih menguntungkan adalah teknik gores, dimana jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu teknik ini tidak memerlukan begitu banyak waktu yang kemudian dengan menghemat waktu tersebut maka menghemat pula bahannya, tetapi pada teknik ini memerlukan keterampilan-keterampilan yang diperoleh dengan latihan. Karena jika penggoresan tidak dilakukan dengan baik atau medianya tergores bahkan rusak, maka media tersebut tidak dapat digunakan lagi. Dan hanya penggunaan penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah. Metode tebar setetes inokolum diletakan dalam sebuah medium agar nutrien dalam cawan petridish dan dengan menggunakan batang kaca yang bengkok dan steril. Inokulasi itu disebarkan dalam medium batang yang sama dapat digunakan dapat menginokulasikan pinggan kedua untuk dapat menjamin penyebaran bakteri yang merata dengan baik. Pada beberapa pinggan akan muncul koloni koloni yang terpisah-pisah

E.    KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat dipahami bahwa Inokulasi adalah kegiatan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangattinggi. Isolasi adalah kegiatan memisahkan bakteri dari lingkungannya dialam. Macam-macam metode dalam menginokulasi adalah dengan metode gores, tebar, tusuk dan tuang. Dimana metode gores lebih menguntungkan dari segi bahan dan waktu. Tetapi memerlukan ketelitian yang lebih.
B.    Saran
Saran yang dapat diberikan pada kegiatan praktikum inokulasi dan pemurnian bakteri adalah peranan asdos dalam membimbing dan mengarahkan praktikan sangatlah penting, dimana disini praktikan masih terasa sangat nol dalam pemahamannya, sehingga semestinya peranan asdos dalam memberikan arahan lebih aktif dan tersampaikan dengan jelas ke praktikan. Kemudian penunjangan alat-alat praktikum supaya praktikum ini berjalan dengan baik dan lancar sangat diharapkan dari saya sebagai praktikan.

 



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008.www.google.com.imagesdiakses pada tanggal 10 Nopember 2008 pukul13.40 WIB
Anonim, 2008.www.wikipedia.comdiakses pada tanggal 10 Nopember 2008 pukul 13.40WIB
Anonymous. 2007.http://www.scrib.com/doc/ 15546953MorfologiKoloniBakteri
Buckle,K.A., J.A. Davey, M.J. Eyles, A.D. Hocking, K.G. Newton, and E.J. Stuttard.1989.
Foodborne Microorganisms of Public Health Significance. 4ed. AIFST(NSW Branch).Australia.
Cappuccino, J.G and N.Sherman. 1983. Microbiology: a Laboratory Manual. Adison-Wesley Publishing company: California
Dwidjoseputro, D. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan : Malang.
Winarni, D. 1997. Diktat Teknik Fermentasi. Program Studi D3 Teknik Kimia FTI-ITS :Surabaya.

Kamis, 25 Oktober 2012

Laporan ANALISIS PERTUMBUHAN IKAN NILA





ANALISIS PERTUMBUHAN IKAN NILA
(Oreochromis niloticus)
(Laporan Praktikum Biologi Perikanan)



Oleh
Surya Edma Syaputra
1114111051

Asisten :
Ahmad Fauzy
1014111001







JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012


ANALISIS PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
                                                              Oleh:
Surya Edma Syaputra
1114111051

 


ABSTRAK


Umumnya semua ikan itu tumbuh dengan sendirinya, sampai pada saat pertumbuhan sangat bergantung terhadap suhu, lingkungan maupungenetik. Tujuan dari praktikum ini adalah Mengetahui perkembangan yang dialami ikan melalui analisis parameter panjang, berat dan morfologi ikan. Memprediksi pola perkembangan ikan, faktor kondisi dan kelompok umur. Dan sekaligus menduga pola perkembangan populasi ikan. Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatantentang pengukuran dari panjang ikan, berat ikan dan tingkat kematangan gonad. Dilakukan pada hari Rabu tanggal 10 Oktober 2012 pukul 08.00-10.00 WIB bertempat di Laboratorium Perikanan di Gedung K Fakultas Pertanian. Hubungan panjang dan berat ikan memberikan suatu petunjuk keadaan baik itu dari kondisi ikan itu sendiri dan kondisi luar yang berhubungan dengan ikan tersebut.
Keyword : ikan nila, panjang tubuh, berat tubuh, fekunditas, mortalitas dan faktor kondisi.




  I.      Pendahuluan

Pada umumnya, ikan mengalami pertumbuhan secara terus menerus sepanjang hidupnya. Hal ini yang menyebabkan pertumbuhanmerupakan salah satu aspek yang dipelajari dalam dunia perikanan dikarenakan pertumbuhan menjadi indicator bagi kesehatan individu dan populasi yang baik bagi ikan. Dalam istilah sederhana pertumbuhan dapat dirumuskan sebagai pertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu, akan tetapi kalau kita lihat lebih lanjut, sebenarnya pertumbuhan itu merupakan proses biologis yang komplek dimana banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor luar yang utama mempengaruhi pertumbuhan seperti suhu air, kandungan oksigen terlarut dan ammonia, salinitas dan fotoperiod. Faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain dan bersama-sama dengan faktor-faktor lainnya seperti kompetisi, jumlah dan kualitas makanan, umur dan tingkat kematian mempengaruhi laju pertumbuhan ikan. Salah satu faktor lingkungan yang sangat penting dalam mempengaruhi laju pertumbuhan.
Sedangkan menurut Fujaya (1999) Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetic, hormone, dan lingkungan (zat hara). Ketiga faktor tersebut bekerja saling mempengaruhi, baik dalam arti saling menunjang maupun saling menghalangi untuk mengendalikan perkembangan ikan.
Hubungan panjang dan berat ikan memberikan suatu petunjuk keadaan ikan baik itu dari kondisi ikan itu sendiri dan kondisi luar yang berhubungan dengan ikan tersebut. Diantaranya adalah keturunan,sex, umur, parasit dan penyakit. Pada keturunan yang berasal dari alam sangat sulit di control, untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik, ikan mempunyai kecepatan pertumbuhan yang baik, ikan mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda pada tingkat umuur dimana waktu muda pertumbuhan cepat, dan ketika tua menjadi lamban, dan parasit dan penyakit sangat mempengaruhi bila yang diserang adalah organ-organ pencernaan. Faktor luar yang utama adalah makanan dan suhu perairan makanan dengan kendungan nutrisi yang baik akan menunjang pertumbuhan dari ikan tersebut sedangkan suhu akan mempengarihi prooses kimiawi tubuh (Effendie, 2002).
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui perkembangan yang dialami ikan melalui analisis parameter panjang, berat dan morfologi ikan. Memprediksi pola perkembangan ikan, faktor kondisi, kelompok umur. Dan sekaligus menduga pola perkembangan populasi ikan.


II.    Metodelogi

a.      Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Perairan kali ini  membahas tentang Analisis Pertumbuhan Ikan Nila dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober 2012 pukul 08.00-10.00 WIB di Laboratorium Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

b.      Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
a.      Penggaris
b.      Timbangan
c.      Kertas label
d.      Timbangan berskala 0,01 gram
e.      Jarum pentul,
f.       Botol film
g.      Alat bedah
h.      Kantong plastik
i.       Alat tulis
j.       Benang jahit
k.      Spidol permanen
l.       Kain lap
m.    Tissue.

Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
a.      Ikan nila (Oreochromis niloticus)
b.      Formalin 4%.

 III.  Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.      Ikan nila yang akan diamati disiapkan di atas baki;
2.      Dikeringkan dengan tissue;
3.      Diberi nomor pada masing-masing ikan, sebaiknya ikan dipingsankan terlebih dahulu;
4.      Diukur panjang total ikan, panjang baku, serta panjang cagak masing-masing ikan;
5.      Ditimbang masing-masing berat ikan yang diamati;
6.      Diperhatikan morfologi ikan yang diamati mulai dari bentuk tubuh, posisi mulut, serta kelengkapan siripnya (mencatat rumus sirip-siripnya);
7.      Ditentukan jenis kelamin ikan preparat;
8.      Diambil dua sisik setiap ikan yang berada di atas linea lateralis dan di belakang operculum menggunakan pinset lalu disimpan ke dalam botol film berlabel;
9.      Diamati setiap sirip ikan, yaitu dorsal, pectoral, ventral, anal, dan caudal, dicatat rumus dan jumlahnya;
10.   Ikan dibedah dari anus hingga bagian belakang operculum, dibuka lapisan daging ikan yang telah digunting agar terlihat isi perut;
11.   Ikan yang telah dibedah digambar;
12.   Diambil gonadnya, dicocokkan dengan jenis kelamin dan ditentukan tingkat kematangan gonad masing-masing ikan;
13.   Gonad disimpan pada botol film berlabel;
14.   Diuraikan usus yang menggulung dan direntangkan, kemudian panjang usus diukur dengan menggunakan penggaris lalu usus dimasukkan ke dalam botol film yang telah diberi label (sebelumnya di kedua ujung usus diikat dengan benang jahit);
15.   Diberikan larutan formalin 4% pada masing-masing botol film yang berisi gonad dan usus hingga keduanya berada dalam posisi tenggelam lalu ditutup rapat kemudian disimpan.

III.       Hasil dan Pembahasan

1.      Pertumbuhan Panjang Ikan Nila
Tabel 1. Pertumbuhan Panjang Ikan Nila.
selang kelas
Fi
Xi
Log fi
∆log fi

167-173
3
170
0,4771


174-180
12
177
1,0791
0,6020

181-187
8
184
0,9030
-0,1760

188-194
16
191
1,2041
0,3010
195-201
12
198
1,0791
-0,1249
1 cohort
202-208
2
205
0,3010
-0,7781

209-215
3
212
0,4771
0,1760

Jumlah
56
1337
1,7481
1,271

Grafik 1. Sebaran Ukuran Panjang Ikan Nila.

Pertumbuhan  berat total ikan nila ini diambil dari berat ikan nila jantan dan betina. Dari grafik terlihat bahwa panjang tertinggi adalah pada frekuensi 188-194.. Terdapat 1 cohort mulai dari ∆ Log fi 0,3010; -0,1249; dan -0,7781.

a.     Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Jantan
Tabel 2. Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Jantan.
selang kelas
fi
Xi
Log fi
∆log fi

167-175
1
171
0


176-184

180

0

185-193
3
189
0,4771
0,4771
194-202
7
198
0,8450
0,3679

 cohort
203-211
2
207
0,3010
-0,5440

212-220
2
216
0,3010
0

Jumlah
15
1161
1,9242



Grafik 2. Sebaran Ukuran Panjang Ikan Nila Jantan.

Pada grafik panjang ikan nila jantan diketahui bahwa pertumbuhan ikan yang paling banyak terdapat pada ukuran panjang kelas 194-202 mm, dan yang paling sedikit terdapat pada ukuran panjang kelas 176-184 mm dan panjang kelas 185-211 mm. Terdapat 1 cohort mulai dari ∆ Log fi 0,4771; 0,3679; dan -0,5440.
b.    Pertumbuhan Panjang Ikan Nila Betina
Tabel 3. Pertumbuhan Panjang Ikan Nila betina.
selang kelas
Fi
xi
log fi
∆log fi

170-174
2
172
0,3010


175-179
1
177
0
-0,3010

180-184
11
182
1,0413
1,0413

185-189
7
187
0,8450
-0,1962

190-194
14
192
1,1461
0,3010
195-199
5
197
0,6989
-0,4471
Cohort
200-204
1
202
0
-0,6989

Jumlah
41
1309
4,0326
4,0326



Grafik 3. Sebaran Ukuran Panjang Ikan Nila Betina.

Data di atas dapat diketahui bahwa pertumbuhan ikan yang paling banyak terdapat pada ukuran panjang kelas 190-194 mm, dan yang paling sedikit terdapat pada selang kelas 200-204 mm. Terdapat 1 cohort mulai dari ∆ Log fi0,3010; -0,4471; dan -0,6989.

2.      Pertumbuhan Berat Ikan Nila
Tabel 4. Pertumbuhan Berat Ikan Nila.
Selang Kelas
fi
Xi
log fi
∆log fi

84-149
38
116,5
1,5797

150-215
182,5
-
-1,5797

216-281
248,5
-
0

282-347
5
314,5
0,6989
0,6989
348-413
5
380,5
0,6989
0
  cohort
414-479
4
446,5
0,6020
-0,0969

480-54
4
512,5
0,6020
0

Jumlah
56
2201,5
4,1818
3,5797


Grafik 4. Pertumbuhan Berat Ikan Nila

Data di atas dapat diketahui bahwa pertumbuhan ikan yang paling tinggi terdapat pada selang kelas 84-149, dan yang paling sedikit terdapat pada selang kelas 150-215 . Terdapat 1 cohort mulai dari ∆ Log fi 0,6989; 0; dan -0,0969.


a.    Pertumbuhan Berat Ikan Nila Jantan
Tabel 5. Pertumbuhan Berat Ikan Nila Jantan.
Selang kelas
Fi
Xi
Log Fi
∆Log Fi
114-200
5
157
0,6989

201-287
0
244
 -
-0,6989
288-374
2
331
0,3010
0,3010
375-461
4
418
0,6020
0,3010
462-548
4
505
0,6020
0

Grafik 5. Pertumbuhan Berat Ikan Nila Jantan.

Data di atas dapat diketahui bahwa pertumbuhan ikan yang paling tinggi terdapat pada selang kelas 114-200, dan yang paling sedikit terdapat pada selang kelas 201-287. Dan pada Pertumbuhan Berat Ikan Nila jantan tidak ada Cohort nya.


b.    Pertumbuhan Berat Ikan Nila Betina
Tabel 6. Pertumbuhan Berat Ikan Nila Betina
Selang kelas
Fi
Xi
Log Fi
∆Log Fi
84-149
33
116,5
1,5185

150-215
0
182,5

-1,518
216-281
0
248,5

0
282-347
4
314,5
0,6020
0,6020
348-413
4
380,5
0,6020
0


Grafik 6. Pertumbuhan Berat Ikan Nila Betina

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pertumbuhan ikan yang paling tinggi terdapat pada selang kelas 88-149, dan yang paling sedikit terdapat pada selang kelas 150-281. Dan pada Pertumbuhan Berat Ikan Nila Betina pun tidak ada Cohort nya.


3.      Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila
Grafik 7. Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila.

Berdasarkan grafik diatas, terbilang hasil yang didapat yaitu menjelaskan hubungan Allometrik Positif (b>3) dimana pertambahan berat lebih dominan daripada pertambahan panjang. Ini bisa saja disebabkan pakan yang diterima mencukupi kebutuhan pakan ikan tsb. Koefisien yang didapat Y= 4,1723x-7,2897. Artinya, ikan nila tersebut gemuk.

a.    Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila Jantan

Tabel 8.Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila Jantan

Berdasarkan grafik diatas, terbilang hasil yang didapat yaitu menjelaskan hubungan Allometrik Positif (b>3) dimana pertambahan berat lebih dominan daripada pertambahan panjang. Disebabkan pakan yang diterima ikan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh ikan, atau bisa disebut ikan ini memiliki cakupan makanan yang lebih. Koefisiennya Y= 3,1038x-4,648. Artinya, ikan nila tersebut gemuk.

b.    Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila Betina
Grafik 9. Hubungan Panjang dan Berat Ikan Nila Betina.

Berdasarkan grafik diatas, terbilang hasil yang didapat yaitu menjelaskan hubungan Allometrik Negative (b<3) dimana pertambahan panjang lebih dominan daripada pertambahan berat. Ini bisa saja disebabkan pakan yang kurang cukup diterima oleh ikan. Koefisien yang didapat Y= = -1,5743x-5,6818. Artinya, ikan nila tersebut kurus.


4.     Faktor Kondisi
a.   
Faktor Kondisi Ikan Nila
Grafik 10. Faktor Kondisi Ikan Nila

Dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b< 1, yaitu Y= 0,0126x+0,3834. Sedangkan R2=0,8621 Jadi faktor kondisi ikan nila tersebut adalah dalam kondisi kurus.


b.    Faktor Kondisi Ikan Nila Jantan
Grafik 11. Faktor Kondisi Ikan Nila Jantan.

Dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b< 1, yaitu Y= 0,0113x+0,5977. Dan R2=0,7365 Jadi faktor kondisi ikan nila jantan tersebut adalah dalam kondisi kurus.

c.   
Faktor Kondisi Ikan Nila Betina
Grafik 12. Faktor Kondisi Ikan Nila Betina.

Dari hasil yang didapat berdasarkan table, nilai b< 1, yaitu Y= 0,016x-0,0298. Dan R2=0,9414. Jadi faktor kondisi ikan nila betina tersebut adalah dalam kondisi kurus.

IV.      KESIMPULAN  DAN SARAN
a.     Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
A.    Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran, baik panjang maupun berat. Pertumbuhan dipengaruhi faktor genetik, hormon dan lingkungan (zat hara).
B.    Hubungan panjang dan berat pada ikan nila jantan dan betina adalah hubungan allometrik positif dan negative.
C.   Pada ikan Nila jantan pertumbuhan panjang tubuh dominan dan memiliki kondisi tubuh gemuk.
D.   Walaupun ikan berada dalam satu kolam yang sama,berat tubuh dan panjang tubuh ikan nila tersebar tidak merata.
E.    Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu faktor dalam: keturunan, dan faktor luar: jenis kelamin dan faktor lingkungan



b.     Saran

Adapun saran dalam melasanakan praktikum ini adalah :
A.    Praktikum ini membutuhkan koordinasi yang baik antara prakatikan dan asdos, praktikan sangat mengharapkan komunikasi yang baik dari asdos penanggung jawab kelompok.
B.    Praktikan mengharapkan kelengkapan dari alat yang digunakan dalam praktikum, agar praktikum pun dapat berjalan dengan efektif.




DAFTAR PUSTAKA

Arie, Usni.1999. Pembenihan dan Pembesaran Nila. Penebar Swadaya. Jakarta.
Effendi. 1997.Biologi Perikanan.              IPB PRESS : Bogor
Kordii, K. MGH.2000. Budidaya Ikan Nila. Dahara Prize. Semarang
     M.Gufran H, Kordi K. 1997.Budidaya ikan nila. Dahara prize. Semarang